Kamis, 14 Maret 2013

2 cara mengamalkan al-alqur'an


Rasulullah  saw bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya." (H.R. Bukhari/4739). Al-Qur'an Al-Karim adalah kitab yang diturunkan oleh  Allah Ta'alaa kepada nabi Muhammad saw. Al-Qur'an merupakan sumber rujukan paling utama bagi umat  Islam, dan bagian dari rukun Iman. Al-Qur'an adalah pedoman hidup dan rahmatan lil'alamin. Artinya, barang siapa yang mengaku dirinya sebagai muslim, maka sudah sepantasnyalah dia meng-amalkan apa-apa yang terdapat di dalam Al-Qur'an.

Mengamalkan Al-Qur'an adalah kewajiban setiap muslim dan orang yang mengamalkannya akan terhindar dari kesesatan. Namun tidak sedikit umat Islam yang mengalami kebingungan dari mana harus memulainya? Mana titik tolak yang harus ditempuh ketika ingin segera mengamalkan Al-Qur'an? Karena merasa kebingungan, tidak sedikit umat Islam yang akhirnya justru tidak mengamalkan Al-Qur'an, sehingga jauh dari nilai-nilai Islam.

Dua Kunci Mengamalkan  Al-Qur'an
DR.Yusuf Al-Qaradhawi menyebutkan, paling tidak ada dua hal yang harus ditempuh umat Islam agar dapat mengamalkan Al-Qur'an dengan baik dan benar.
Pertama, kita harus memulainya dengan mengimani Al-Qur'an terlebih dahulu secara kaffah, menyeluruh, totalitas, tanpa tawar-menawar. Tanpa iman kepada Al-Qur'an, maka dipastikan akan sulit mengamalkan isi Al-Qur'an. Iman kepada Al-Qur'an berarti beriman kepada seluruh kandungan yang ada di dalamnya, yang berupa aqidah, ibadah, syariat, akhlak, adab, dan muamalah. Seorang muslim tidak boleh hanya mengambil sebagian nya saja, misalnya dia hanya mengambil bagian aqidah saja, namun menolak bagian ibadahnya. Atau dia hanya mengambil bagian syariat, namun menolak aqidahnya. Atau dia mengambil bagian ekonomi, namun menolak bagian politik. Atau dia hanya mengambil bagian ibadahnya saja, namun menolak bagian akhlak. Dan seterusnya.

Beberapa Contoh bukan Kaffah
Mengenai hal ini, ada beberapa contoh kasus, di mana ada sebagian umat Islam yang mengimani sebagian ayat-ayat Al-Qur'an, namun menolak sebagian ayat-ayat yang lain. Misalnya mengenai ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan, Allah U berfirman, "Hai  orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber- puasa sebagaimana diwajib kan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (QS. Al-Baqarah [2]: 183).


Ketika mendengar ayat ini, maka seorang muslim mengatakan kami dengar dan kami taat. Mereka melaksana- kan puasa Ramadhan. Namun ketika berhadapan dengan firman Allah tentang qishash, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula)..." (QS. Al-Baqarah [2] : 178).

Mereka bimbang dalam melaksanakan hukum qishash. Bahkan menjadikan hukum ini sebagai bagian dari syariat Islam yang menyeramkan. Padahal ayat tentang qishash ini urutannya ada di empat ayat sebelum ayat tentang kewajiban berpuasa. Namun mengapa mereka hanya mengimani ayat tentang kewajiban berpuasa saja? Lagi pula bentuk kalimat mewajibkan nya juga sama dengan menggunakan, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ... supaya kamu bertaqwa".  
Kasus lain yaitu tentang pelarangan riba. Allah Ta'alaa berfirman,"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman." (Q.S. Al-Baqarah [2] : 278).

Kaum muslimin percaya tentang ayat ini. Namun ketika dalam pelaksanaannya, mereka berpikir lagi, bagai- mana mungkin mendirikan bank tanpa riba? Adakah untungnya mendirikan bank tanpa riba? Padahal Allah Ta'alaa sudah jelas-jelas memerintah- kan untuk meninggalkan riba. Akhirnya Allah Ta'alaa memberikan pelajaran berharga kepada umat Islam, khusus- nya di Indonesia, ketika terjadi krisis moneter 1998. Ketika itu perekonomian Indonesia yang dibangun di atas sistem dan praktek ribawi hancur berantakan. Semenjak itulah umat semakin sadar akan buruknya praktek riba dan mulai melirik kembali sistem ekonomi Islam. Sehingga bank-bank syariah dan sistem ekonomi syariah bermunculan.

Begitu pula dengan ayat tentang ta'addud (poligami) yang terdapat dalam firman Allah Ta'alaa surat An-Nisaa’ [4] ayat 3. Para muslimah  meyakini ayat ini, tentang dibolehkannya poligami hingga empat istri, namun masih ragu dalam menerapkannya. Berbagai alasan dilontarkan ketika akan menghadapi hal ini.
Mengimani Al-Qur'an berarti mengimani seluruhnya tanpa kecuali. Karena Al-Qur'an adalah satu kesatuan yang utuh. Antara ayat satu dengan yang lainnya saling bertautan, dan saling me-lengkapi. Dengan meng- imani Al-Qur'an seperti ini, maka insya Allah akan mudah dalam mengamalkannya.

Kedua, memberikan perhatian kepada apa-apa yang ada atau yang diperhatikan oleh Al-Qur'an. Misalnya, perhatian Al-Qur'an terhadap anak-anak yatim. Banyak sekali ayat Al-Qur'an yang menyebutkan tentang anak yatim. Rasulullah sendiri lahir dalam keadaan yatim. Ini menandakan bahwa anak yatim patut mendapatkan perhatian serius dari kita, dan juga negara, untuk tidak menelantarkan anak-anak yatim. Selain anak yatim, Al-Qur'an juga memberikan perhatian kepada orang-orang miskin.
Contoh lain tentang malam Qadr yang diutarakan dalam surat Al-Qadr [97] ayat 1-5, menandakan bahwa Al-Qur'an sangat mementingkan dan mem-perhatikan tentang malam Qadr yang penuh dengan kemuliaan. Karena itu kita pun jangan sampai melewati malam Qadr ini dengan perbuatan yang sia-sia. Kita harus memberikan perhatian yang penuh dengan berusa menggapainya dan mengisinya dengan amal shaleh.

Masih ada lagi perhatian Al-Qur'an terhadap thaharah (bersuci), shalat, zakat, serta puasa. Thaharah diterangkan dalam Al-Qur'an hanya beberapa kali saja, contohnya dalam surat Al-Maidah [5] ayat 6. Sedangkan dalam hal shalat, zakat dan puasa, Al-Qur'an menjelaskannya berkali-kali. Ini menunjukkan adanya skala prioritas dalam pengamalan (pengajaran). Demikianlah, dua hal yang harus kita mulai dalam mengamalkan Al-Qur'an. Yaitu dimulai dari mengimaninya secara menyeluruh, lalu memperhatikan apa-apa yang diperhatikan oleh Al-Qur'an. Wallahu ‘A’laam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar